Skip to content

Wiji Thukul Dihilangkan Tetapi Tetap Hidup

28/10/2010

Oleh: I Gusti Agung Anom Astika

Pelan-pelan kehidupan sebuah negeri mulai berubah dari yang otoriter ke yang demokratis. Tidak lama kemudian hampir semua orang berbicara tentang pentingnya menghargai perbedaan pendapat dan keragaman budaya. Sebelumnya adalah masa penyeragaman dan ketiadaan demokrasi dan banyak pula yang menyetujuinya. Tetapi banyak yang berjuang melawan rejim Orde Baru, dan banyak yang dikorbankan dan atau dihilangkan akibat kekerasan negara, termasuk di antaranya penyair Wiji Thukul.

Apa yang ada dalam buku ini adalah untuk mengenang Wiji Thukul dan para korban pelanggaran HAM lainnya. Sehingga pilihan tulisan yang diangkat selalu menghubungkan aktivitas Thukul sebagai penyair dan problem-problem sosial masyarakat kelas bawah. Apakah itu cerita sahabat, teman seperjuangan, maupun orang orang terdekatnya, semua berkelok liku menata ulang pengetahuan tentang syair yang berlawan. Lebih jauh lagi, kenangan atau memori akan sebuah kejadian atau tentang seseorang tidak sebatas apa yang berlangsung di masa lalu ataupun yang dilakukan seseorang di masa lalu. Ia sesuatu yang terus hidup, dan tak pernah mati. Sesuatu yang retrospektif, yang perlu dilihat dengan cermat lagi untuk membayangkan yang akan datang, menurut Walter Benjamin.

Berdiri di atas esai-esainya dan juga kumpulan wawancara dengannya, kita dapat melihat bahwa Wiji Thukul adalah sosok yang berpikir keras tentang pembebasan rakyat. “Orang-orang yang berani memang bisa dipenjarakan, tetapi keberanian tak bisa dipenjarakan” demikian ungkapnya (h.4). Wawasannya luas, penyimpulannya tajam, seperti ujarnya, “…tak ada bedanya antara menulis dan berjuang. Menulis dan berjuang adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Karena itu resikonya pun sama. Bila tertangkap dihukum” (h.5) Ketajaman ini memuncak pada “puisi adalah media yang mampu menyampaikan permasalahan orang kecil (h.8)”. Ini pun masih ditambah dengan kesadaran bahwa wacana kebebasan itu tidak akan mungkin dicapai tanpa adanya kesetaraan. Sebuah prasyarat etis dari keadaan yang menempatkan subyek-obyek dalam posisi yang saling membebaskan: “Maka sebelum ngamen puisi, saya ngamen musik terlebih dulu. Setelah empunya rumah siap, baru saya ngamen puisi. Ngamen itu elit. Karena posisi si pengamen dan tuan rumah berada sejajar” (h.11)

Menginjak bagian kedua, diungkapkan bagaimana puisi Wiji Thukul berkembang dalam khazanah sastra Indonesia. Puisi-puisinya bagai otobiografi kejiwaan sang penyair, menurut Arif Budiman (h.45). Sedang Yoseph Yapi Taum menyebutnya sebagai seorang penyair kerakyatan yang kembali mendudukkan fungsi sastra pada tempatnya, yakni sebagai sarana memperjuangkan cita-cita dan visi kemanusiaan, (h.68). Akan tetapi yang berhasil menyampaikan bentuk perkembangan sastra dalam kesadaran Wiji Thukul di dalam buku ini adalah yang ditulis oleh R. von der Borgh. Praktek ngamen puisi, pementasan puisi yang partisipatif, pertukaran pentas antar kelompok teater dan kesadaran untuk menulis puisi dengan berangkat dari pengalaman sehari hari bukanlah keunggulan Wiji Thukul walaupun banyak orang yang terkejut dibuatnya. Para penyair tradisional Aceh pun juga sudah melakukan hal yang sama, sebagaimana juga improvisasi berpuisi yang dikembangkan oleh Saut Sitompul. Tetapi yang lebih penting, “…pengalaman setempat merupakan titik awal dari setiap pernyataan kritik sosialnya, sajak-sajaknya memiliki kemampuan untuk melibatkan secara spontan, hati dan pikiran para peminat yang dipilihnya” dengan medium Bahasa Jawa-Indonesia (h.56). Persis seperti yang diwacanakan oleh Maurice Merleau Ponty, bahwa kesadaran tidak dapat berbuat apapun tanpa tubuhnya. Besar kecilnya kesadaran itu ditempa melalui pergaulan kesadaran itu dengan yang lain, sejauh mana kesadaran itu dapat menyentuh pikiran yang lain dan mengorganisasikan tindakan orang lain (Ponty, Humanism and Terror, 1969:102)

Sayang orang sebesar Thukul dihilangkan pada tahun 1998. Tiada jejak, hanya potongan-potongan pertemuan yang selalu diingat orang. Kenangan-kenangan dari mereka yang pernah bertemu dengan Wiji Thukul di tahun 1997-1998 ditampilkan dalam bagian ketiga dari buku ini. Personifikasi Wiji Thukul ditayangkan dalam berbagai wacana. Sebagai sesama budayawan JJ Kusni melantunkan lagu kehilangan yang dalam, sehingga berapa porsi es campur yang dilahap Wiji Thukul pun ia tak lupa. Sementara Linda Christanty merasa penghilangan Wiji Thukul berikut teman teman aktivis PRD lainnya sebagai sesuatu yang hidup dalam dirinya. Sehingga mata penanya menulis, “…sebagian puisinya berganti warna lebih murung dan kontemplatif, meski masih bernada protes sosial. Situasi pelarian dan terasing terlihat dalam sajaknya yang bertutur soal-soal sepele..”. Namun apakah banyak orang akan berteriak seperti derat syair Victor Serge di Orenburg tahun 1934?

….Tapi anjing-anjing tak pernah kecut menerkam

Mereka rawat paku taringnya dengan penuh harga diri

Dalam gerutuan hidup ini

selama berabad abad kita terus mengingat ingat mereka

Diamlah kau saudaraku yang pengecut!

Sebelum penderitaan seseorang menjadi lebih kuat darimu

Siapapun, yang lebih baik darimu,

Sedia sekarat untukmu, gugur lebih banyak untukmu

(Victor Serge, Resistance, 1989, h.22)

Mungkin ya, mungkin tidak..Tetapi wujud Wiji Thukul seharusnya dapat dilihat secara lebih alami, dalam arti kesadarannya dapat membangun keberlangsungan perjuangan tiap insan negeri ini. Apakah itu perjuangan Mbak Pon yang banyak ditulis dalam bagian keempat buku ini, maupun perjuangan demokrasi di negeri ini seluruhnya bukan karena Wiji Thukul lahir dari kalangan kelas tertindas, yang kere dan pendidikannya rendah. Proses penciptaan puisi-puisinya, dan proses belajarnya hingga dapat merekam begitu banyak realitas masyarakat bawah belum banyak ditulis. Pasti ada proses proses interaksi sosial yang membuatnya berpikir dua kali tentang realitas yang menindas. Bisa jadi historisitas masyarakat Solo yang berlawan terhadap kolonialisme berpengaruh atas alam pikir Wiji Thukul. Tetapi justru faktor sosio historis ini yang tampaknya alpa diketengahkan dalam buku ini. Padahal sebagai advokasi terhadap pelanggaran HAM oleh negara akan lebih baik jika buku ini mampu merekam kesaksian warga kampung Kalangan tempat Wiji Thukul berdomisili. Sehingga penghilangan paksa terhadap seorang penyair menghancurkan juga kreativitas sebuah komunitas. Manusia kembali serupa spesies yang belum pernah berpikir dan berproduksi ketika relasinya dengan kapitalisme merenggut kreativitasnya, demikian parafrasa terhadap tulisan Marx dalam Manuskrip 1844. Mungkin ini pula sebabnya mengapa belum ada slogan baru dalam setiap demonstrasi yang bisa menggantikan Hanya Ada Satu Kata: Lawan!

Hingga kini kerinduan akan Wiji Thukul tetap memancar dari setiap insan yang berpikir tentang perubahan sosial, tentang kehidupan yang lebih baik di negeri ini. Wole Soyinka menulis, “Jasadnya bersaksi tentang yang tetap ada/ Lidahnya serupa jemari yang bersembunyi dari pikirannya/ Belajarlah untuk tidak mati” (Soyinka, Post Mortem, Idanre and Other Poems, 1967, h.31). Andai jasad Thukul hadir di hadapan kita, tetap ada semangat berlawan di dalamnya. Seolah olah ia selalu menghantui sang penindas rakyat dan bertanya pada kita semua: “Apakah belum cukup perumpamaan bahwa Aku Tidak Merdeka?”. Apapun kesedihan yang berlaku akan hilangnya Wiji Thukul semuanya berkuala pada kredo: Perjuangan melawan penindasan dan penghisapan belum selesai, dan belum saatnya berpangku tangan menikmati indahnya demokrasi a la reformasi.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: