Skip to content

Orasi Pembukaan Serial Diskusi Membaca Das Kapital

23/10/2010

berderapnya anak zaman menyongsong rebahnya kesadaran inlander

oleh: I Gusti Agung Anom Astika

Yang Terhormat, para calon peserta serial diskusi Membaca Das Kapital, kawan kawan Komunitas Marx, Komunitas Hegel, dan Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara,

Yang Terhormat, para Pengajar dan Civitas Akademik Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara,

Yang Terhormat, para pelajar filsafat di seluruh Indonesia,

Pertama-tama, saya ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada berbagai pihak yang telah membantu dan mendukung segala persiapan penyelenggaraan serial diskusi ini. Baik kepada Pembantu Ketua III STF Driyarkara, Romo Setyo Wibowo yang telah berperan banyak membimbing persiapan penyelenggaran acara ini, maupun kepada kawan-kawan pengurus Senat Mahasiswa STF Driyarkara yang tak henti-hentinya memberikan saran perihal bagaimana seharusnya sebuah komunitas diskusi berperan di dalam kehidupan mahasiswa STF Driyarkara. Eksklusifitas di dalam hal ini merupakan isu penting sehubungan dengan komposisi mahasiswa STF yang beragam asal usul dan latar belakang. Karenanya terdapat banyak upaya untuk melumerkan batas batas eksklusifitas di dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat akademik, dan salah satunya adalah melalui penyelenggaraan/ pembentukan komunitas studi ilmiah. Sebagai bagian dari program Senat Mahasiswa, seharusnya komunitas memiliki kemampuan untuk menjaring partisipasi baik dari berbagai komunitas kerohaniawanan, maupun dari kalangan awam. Pada titik ini problem eksklusifitas dari sebuah komunitas diskusi perlu dilihat secara kritis sebagai cara untuk mempererat persaudaraan maupun sebagai cara untuk memperluas pengetahuan filsafat. Mungkin karakter eksklusif ini tampil mengedepan pada komunitas komunitas diskusi yang terdahulu. Kendati demikian, belum selalu eksklusifitas dapat dianggap sebagai problem dasar dari keberadaan sebuah komunitas studi filsafat di tengah ruang belajar yang dihuni oleh banyak orang dengan berbagai macam latar belakang. Bagi kami, eksklusifitas di sini lebih serupa bahasa lain dari problem pergaulan di antara mereka yang berada di dalam komunitas dan yang di luar komunitas, walaupun problem pergaulan itu sendiri juga tak selalu dapat dianggap sebagai sebuah problem, dan lebih serupa fenomena sosial. Apa yang perlu dipikirkan lebih jauh adalah pada bagaimana membentuk sebuah komunitas studi filsafat yang berkemampuan mendorong para peserta komunitas untuk menghasilkan gagasan gagasan yang kreatif sebagai konsekuensi logis dari diskusi diskusi yang berlangsung di dalam komunitas. Artinya kemudian, yang lebih penting adalah bagaimana menciptakan sebuah ruang bagi berlibatnya berbagai individu di dalam komunitas studi filsafat, dan bagaimana ruang itu dapat melahirkan kerja sama kerja sama ilmiah di antara para mahasiswa STF Driyarkara. Boleh-bolehlah sekali waktu diskusi komunitas Marx berlanjut di Lapo Ni Tondongta demi segelas bir dan dua porsi babi panggang agar lahir sebuah karya ilmiah tentang pemikiran Karl Marx. Anggaplah itu seperti ujaran puitik Saut Sitompul, “Ada daun jatuh, Tulis. Ada bau babi panggang, Tulis. Tulis, tulis dan Tulis!”.


Banyak juga yang beranggapan bahwa persoalan eksklusivitas ini berkait dengan cara berbahasa dari mereka yang berada di dalam komunitas terhadap mereka yang baru mencoba berpartisipasi di dalam komunitas. Peristilahan yang tidak lazim, perbincangan yang berlarut-larut untuk topik yang tidak renyah dicerna oleh rata-rata mahasiswa STF boleh jadi berperan di dalam membentuk eksklusifitas itu. Lebih-lebih apabila wajah-wajah dari mereka yang berbicara aktif di dalam komunitas itu lebih memancarkan kesuraman ketimbang pengharapan. “Pantaslah, sudah bahasanya aneh, yang diomongin aneh, apalagi orang-orangnya: Autis!”, demikian kata seorang mahasiswi UI yang sekali waktu dua-tiga tahun lalu hadir dalam sebuah diskusi komunitas. Anggapan itu belum selalu benar, lantaran kami beranggapan bahwa “aneh” adalah sesuatu yang memang dan harus lekat pada setiap insan pelajar filsafat, sebagaimana manusia pada umumnya. Bukan dari “sana” nya aneh, tapi memutuskan untuk belajar filsafat di alam yang serba instan dan serba butuh modal seperti sekarang ini, sesungguhnya adalah ide yang ‘aneh’. “Buat apa belajar filsafat ? Gak ada untungnya!”, demikian kata ayah seorang mahasiswa STF. Adanya keanehan tidak selalu bermakna negatif, tetapi sungguh positif ketika itu dilihat sebagai sikap kritis terhadap segala sesuatu yang penuh dengan tipuan optik, segala sesuatu yang tidak membebaskan manusia, dan sebagainya. Toh keanehan-keanehan yang berlangsung di STF Driyarkara baru sebatas gesture, diksi, dan bentuk bentuk kebahasaan lainnya, dan belum serupa anak buah Noordin M Top yang harus memasuki rumah lewat jendela lantaran memasang bom pertahanan diri di pintu masuk rumahnya. Problemnya justru pada apa yang dapat dihasilkan dari segala keanehan itu sendiri. Apabila segala bentuk keanehan dari sebuah komunitas itu hanya menghasilkan orang orang yang banyak membaca buku, dan pandai bicara filsafat tapi begitu sulit melahirkan karya karya filsafat berdasarkan riset boleh jadi ada tendensi anti sosial dalam komunitas itu. Boleh jadi juga komunitas itu, seperti kata Mbah Surip, sedang begitu sibuk menggendong dirinya sendiri, kemana-mana mendapatkan jalan buntu kreativitas. Entahlah, masih banyak kemungkinan yang lain. Yang jelas persoalannya bukan pada keanehan itu sendiri, tetapi lebih pada bagaimana keanehan itu berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Jangan berharap lebih jauh akan keberadaan sebuah komunitas, apabila publik STF sendiri lalu berpendapat seumpama dua bait terakhir sajak Sia Sia Chairil Anwar di tahun 1943: “Ah ternyata hatimu yang tak memberi. Mampus kau dimakan sepi”.

Eksklusivitas menjadi permasalahan ketika eksklusivitas itu justru melahirkan erotisme perdebatan intelektual. Artinya bahwa problem-problem yang dibicarakan di dalam sebuah perdebatan dapat dan hanya dapat diperbincangkan oleh mereka yang berlibat di dalam komunitas dan belum selalu dipikirkan perihal keterlibatan orang di luar komunitas sebagai bagian dari perdebatan. Oleh sebab perbincangan yang berlangsung di dalam komunitas sudah sedemikian canggihnya, sehingga orang di luar komunitas perlu berpikir dua kali dua puluh empat jam tanpa harus lapor RT untuk berlibat di dalam komunitas. Oleh sebab, perdebatan yang berlangsung sudah demikian luas cakup pemahamannya; oleh sebab problem-problem di dalam perdebatan itu dibicarakan dengan diksi diksi filosofis yang tak terurai segera penjelasan ataupun terjemahannya; langsung dalam waktu sekejap keengganan menyapu semangat untuk berlibat. Apa sebenarnya yang diperdebatkan dan apa -apa saja yang dibahasakan secara filosofis?

Pembentukan sebuah komunitas pada dasarnya tidaklah sama dengan pembentukan perkumpulan suporter sepakbola dan atau perkumpulan pemuja arwah gentayangan. Adanya sebuah komunitas di dalam lingkup masyarakat akademik pun sudah pasti bukan perkumpulan pesta pora dan orgy. Melainkan berdasarkan kebutuhan mempelajari kekhususan pemikiran seorang filsuf misalnya, dan boleh jadi juga sebuah ekskursus (studi banding) ke berbagai pemikiran tentang modernisme, misalnya. Pendek kata, di dalam proses pembentukan sebuah komunitas problem pertama yang harus dijawab adalah “persoalan apa di dalam filsafat yang perlu dipelajari secara serius”. Apakah itu serupa pemikiran-pemikiran dari seorang tokoh filsafat, ataukah itu isu-isu penting di dalam filsafat, seluruhnya dapat dianggap sebagai awal dari pembentukan sebuah komunitas. Problem kedua yang perlu dijawab adalah pada bagaimana mempersiapkan proses belajar di dalam komunitas. Bagi kami dari komunitas Marx dasar dari problem kedua ini lebih merujuk pada pemikiran Marx tentang komunitas sebagaimana yang dituangkannya dalam Economic and Philosophical Manuscript, bahwa1:

“Dengan hakekat kemanusiaan yang menciptakan komunitas sejati manusia, di sana manusia menciptakan komunitas kemanusiaan melalui aktivasi dari hakekatnya. Hakekat manusia adalah hakekat sosial yang bukan merupakan kekuasaan abstrak umum terhadap individu, tetapi hakekat dari setiap individu, yang berkait dengan aktivitas, kehidupan, pikiran dan kesejahteraan dari individu itu sendiri… Manusia bukanlah abstraksi, tetapi sungguh individu-individu yang nyata, hidup dan unik dari hakekat (komunal) ini”.

Artinya, proses belajar ini perlu mempertimbangkan kepentingan dari setiap individu untuk dapat berlibat di dalam komunitas. Bukan sekedar mobilisasi rasa ingin tahu yang dapat dijadikan dasar untuk mempersiapkan proses belajar, tetapi justru pemahaman terhadap problem-problem filsafat dan problem-problem realitas sosial yang dapat direfleksikan secara filosofis. Penting karenanya memperhatikan bagaimana Antonio Gramsci mendefinisikan filsafat sebagai sebuah materi pendidikan2:

“Konsepsi seseorang tentang dunia adalah tanggapan atas sejumlah problem spesifik tertentu yang diletakkan oleh realitas, yang cukup spesifik dan ‘orisinal’ oleh karena kemendesakan dari relevansinya”.

Beberapa alinea sebelumnya Antonio Gramsci menulis dengan begitu lugas3:

“ Adalah penting untuk menghancurkan prasangka meluas bahwa filsafat adalah sesuatu yang aneh dan sulit hanya karena filsafat merupakan aktivitas intelektual yang spesifik yang secara sosial menjadi kategori khusus kaum spesialis atau para filsuf sistematik dan profesional. Sudah saatnya ditunjukkan bahwa semua orang adalah “filsuf” dengan membuat batasan-batasan maupun karakteristik ‘filsafat spontan’ yang sesuai bagi semua orang”.

Arti pentingnya bukan pada bagaimana Gramsci mendefinisikan filsafat sebagai sebuah konseptualisasi dunia, tetapi justru pada bagaimana melihat filsafat sebagai sebuah upaya untuk memperluas pemahaman tentang dunia dengan melihat bahasa, kemasukakalan dan kebijakan, serta folklor sebagai bagian-bagiannya. Akan tetapi apa yang dikemukakan oleh Gramsci di muka agak bermasalah lantaran terjadi pemisahan antara filsafat profesional dan filsafat spontan, antara realitas yang dipahami oleh para filsuf dengan realitas yang dipahami oleh orang biasa. Ketika dua pemahaman terhadap realitas itu dipertemukan di ranah praktis menjadi sulit untuk mencari rumusan rumusan filosofisnya. Dalam artian apabila pendidikan dibayangkan sebagai sebuah proses pembentukan pemikiran filsafat, dan oleh karenanya perlu memperhitungkan keterkaitan antara teori dan praktek; pencerapan pengetahuan dan ketrampilan menulis lalu bagaimana meletakkan filsafat dalam dimensi praksis? Levebvre kemudian menjawabnya sebagai berikut:4

“Praksis bagaimana pun dibentuknya tetap merupakan sesuatu yang terbuka: praksis selalu menunjuk pada ranah kemungkinan. Secara dialektis, inilah tepatnya makna dari determinasi: yang negatif mengandung yang positif, menegasi masa lalu dalam makna yang mungkin, dan memanifestasikannya sebagai totalitas. Setiap praksis memiliki dua koordinat historis: yang pertama menujuk masa lalu, yang sudah dan sedang diselesaikan, sedang yang lain pada masa depan pada hal mana praksis menjadi terbuka dan memungkinkan untuk diciptakan”

Pemaknaannya di sini lebih berkait dengan filsafat sebagai sebuah media pendidikan, sebagai sarana yang terus mendorong lahirnya pemaknaan pemaknaan baru terhadap pengalaman-pengalaman hidup manusia. Bahasa memang selalu mengandung nilai filosofis, tetapi baru memiliki penjelasan filosofis ketika dihubungkan dengan aktivitas manusia yang lain. Adanya filsafat bukan oleh karena kebiasaan membaca buku, dan berdiskusi sepanjang hari demi lahirnya gagasan-gagasan filosofis. Melainkan ia lahir melalui riset, melalui penyelidikan terhadap berbagai macam problem filsafat, baik yang sudah ditulis oleh para filsuf maupun terhadap problem-problem kongkret. Artinya kebutuhan untuk mempelajari filsafat di sini tidak hanya didasarkan pada ketertarikan terhadap problem problem filsafat, tetapi juga tujuan maupun kepentingan individu di dalam mempelajari filsafat. Apakah itu untuk menempa kemahirannya di dalam menelisik gagasan filosofis di balik fenomena realitas sosial, ataukah itu untuk merancang sebuah direktori pemikiran dari perspektif Marxis, seluruhnya coba diwadahi dalam proses diskusi dalam rangka praksis ini. Menarik jika kemudian kita memperhatikan perkembangan yang paling belakangan dalam studi studi filsafat dari garis Marxian, yang kini sudah mencakup bidang bidang kehidupan yang spesifik seperti problem emansipasi kaum peranakan sebagaimana yang diadvokasi oleh Cornel West, problem estetika counterpoint dalam bidang musik sebagaimana yang sudah diinisiasi oleh Theodor Adorno, maupun problem feminisme dalam filsafat seiring dengan munculnya sejumlah filsuf perempuan di akhir abad ke 20 seperti Judith Butler, dan Toril Moi. Secara praktis-filosofis gagasan Marxisme juga berpengaruh dalam pemikiran di bidang kesenian dan kesusasteraan. Mungkin yang diketahui oleh mahasiswa STF baru sebatas debat antara Lukacs, Brecht, dan Bloch tentang estetika marxis. Tetapi di belahan Amerika Latin tercatat nama Augusto Boal yang bereksperimen teater pembebasan, sebagaimana juga Tadeusz Kantor di pinggiran desa desa di Polandia. Sudah tidak jamannya lagi kita masih berpikir dalam perspektif ortodoksi marxisme dan lingkar marxisme Barat. Sebab itulah pembagian yang kerap bernuansa Perang Dingin, dan tidak dapat melihat secara komparatif bagaimana studi filsafat di Yugoslavia bisa menghasilkan filsuf semacam Slavoj Zizek sebelum melihat secara historis bagaimana relasi diantara intelektual Eropa di masa Perang Dingin. Dengan demikian, problem pendidikan filsafat di sini belum selalu bermakna pembacaan sebuah teks seorang filsuf, lalu diselidiki paragraf demi paragraf untuk kemudian dicari logika sang filsuf di dalam mempersepsikan sesuatu dan atau mendefinisikan sesuatu. Tetapi juga melihat konsekuensi logis dari pemikiran tersebut baik dalam pengembangan studi studi filsafat maupun dalam realitas sosial. Oleh karenanya, dalam konteks pembacaan terhadap Das Kapital yang menjadi titik tekan adalah pada bagaimana mempelajari pemikiran Marx secara filosofis, dan bagaimana realitas sosial dipersepsi oleh Marx sebagai cara untuk melihat relasi di antara teori dan realitas dalam kerangka praksis.

Sudah pasti sulit mempersiapkan proses belajar yang demikian, oleh karena persoalan-persoalan yang dibahas tidak sekedar mencari makna di balik sebuah istilah, dan juga bukan sekedar membuat artikulasi logis dari kalimat-kalimat yang tertuang di dalam teks Das Kapital. Apa yang lebih penting adalah membuat pembacaan itu dapat dipersepsikan sebagai sebuah studi ilmiah. Oleh sebab, pembacaan secara harafiah, dan bahkan reduksionis, sudah bermula sejak Friedrich Engels membuat karya Sinopsis terhadap Kapital, dan seterusnya ketika Engels melanjutkan Jilid II dan III Das Kapital dengan berdasar fragmen-fragmen catatan Marx5. Berdasarkan pembacaan terhadap Kapital jilid II dan III yang cenderung lebih praktis dan tidak mengandung perdebatan filosofis seperti dalam Kapital jilid I, segala pemikiran Marx di dalam proyek Das Kapital disederhanakan oleh banyak intelektual Kiri, termasuk Lenin, sebagai Ekonomi Politik. Gunanya sebatas bahan agitasi propaganda kepada kelas proletar untuk mulai melancarkan pemogokan-pemogokan demi pengambilalihan alat-alat produksi. Sementara Harry Cleaver mencatat munculnya berbagai macam tradisi membaca Das Kapital dan kemudian membaginya ke dalam dua aras besar yang saling bersilangan: Pembacaan berdasarkan bidang kajian dan pembacaan berdasarkan tujuan politik6. Dari sana Cleaver, menjabarkan pembacaan berdasarkan perspektif Ekonomi Politik Internationale Kedua, dengan tokoh-tokohnya Eduard Bernstein, Karl Kautsky, dan Rosa Luxembourg; pembacaan Komunis Marxis, dengan tokoh-tokohnya Lenin, Stalin, Mao Tse Tung; pembacaan Neo Marxis Keynesianisme dan Kiri Baru dengan tokoh-tokohnya Paul Sweezy, Joan Robinson, dan Paul Baran; pembacaan Ortodoksi Baru dengan tokoh-tokohnya Ernest Mandel dan Paul Mattick. Pembacaan secara Filosofis memiliki ragam tendensi yang begitu luas, mulai dari lingkar Marxisme Barat (Western Marxism), dengan tokoh tokohnya seperti Lukacs, Gramsci dan Karl Korsch yang semuanya menekankan pengaruh Hegel atas Marx; Neo Kantianisme Galvano Delavolpe dan Lucio Colleti; Marxis Hegelianisme Jean Hyppolite dan Alexandre Kojeve; Eksistensialisme Jean Paul Sartre, Simone de Beauvoir, dan Maurice Merleau Ponty; Marxisme fenomenologis Tran Duc Thao dan Karel Kosik; teori Kritis mazhab Frankfurt dengan tokoh tokohnya Marcuse, Horkheimer, Adorno dan Habermas; mazhab ortodoksi baru Louis Althusser; tendensi Johnson Forrest dengan tokoh tokohnya CLR James dan Raya Dunayevskaya; mazhab Socialism ou Barbarie dengan tokoh tokohnya Cornelius Castoriadis dan Claude Lefort, serta mazhab Kiri Baru Italia dengan tokoh tokohnya, Raniero Panzieri, Tronti dan Antonio Negri7. Pembagian ini belum sepenuhnya benar dan lengkap karena belum memasukkan tendensi dari pemikiran Zizek dan Badiou misalnya, dan belum juga memasukkan unsur tendensi feminis Marxis, ataupun Geografi Marxisme David Harvey yang dipengaruhi oleh mazhab anales (spasial) Fernand Braudel. Lebih lebih ketika Cleaver secara sembrono memasukkan Althusser sebagai pemikir ortodoksi Marxisme dalam bentuk yang baru, dan tendensi Birmingham Cultural Studies dengan tokoh tokohnya, Raymond Williams, dan EP Thompson sekedar sebagai bagian dari Western Marxism. Tetapi sebagai sebuah peta sederhana tentang pembacaan terhadap Das Kapital, Cleaver menyediakan basis bibliografik untuk pembacaan Das Kapital di STF Driyarkara. Oleh karenanya di dalam proses belajar nantinya diupayakan beberapa macam pembahasan. Pertama pembahasan secara literer tekstual yang berdasarkan atas pemaknaan terhadap teks Das Kapital, dan yang kedua pembahasan secara interpretatif dan elaboratif yang merujuk pada silang referensi antara karya karya Marx sebelum Das Kapital dan Das Kapital, maupun Das Kapital dengan karya karya para penafsirnya. Barangkali hanya mereka yang kurang kerjaan mau berpikir tentang Das Kapital dalam cara yang begitu rumit ini.

Pembahasan yang elaboratif dan interpretatif sebenarnya juga bukan sesuatu yang baru, karena sudah banyak tersedia karya karya tulis ilmiah yang mempelajari satu atau beberapa gagasan dalam Das Kapital. Ambil contoh studi studi yang dilakukan oleh Walter Benjamin mengenai fetisisme komoditi, reproduksi modal dan reproduksi budaya sebagai yang tertuang dalam karyanya The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction. Kemudian studi Georg Simmel tentang kehidupan kota besar yang meletakkan unsur ekonomi uang sebagai relasi sosial yang membentuk sosio-psikologi masyarakat kota, tertuang dalam tulisannya Metropolis. Dalam bidang sejarah, pemaknaan atas ruang studi sejarah yang tidak hanya berbatas pada urut urutan waktu tetapi sebagai rangkaian peristiwa yang berserakan tanpa narasi tunggal telah melahirkan pemahaman tentang demokratisasi sejarah yang berangkat dari pengalaman hidup mereka yang dipinggirkan. Sejarawan Inggris EP Thompson sudah memulainya, dan kemudian diformulasikan secara filosofis oleh Alain Badiou, menginterpretasikan kembali sejarah yang dipikirkan oleh Karl Marx sebagai sejarah aktivitas manusia. Semuanya ini menunjukkan bahwa yang ditulis oleh Marx dalam Das Kapital telah menjadi sumber yang inspiratif bagi proyek proyek pembebasan manusia maupun bagi pengembangan studi filsafat.

Sebagai cara untuk mempelajari Das Kapital, kami mempersiapkan sejumlah teks pendukung yang memungkinkan para peserta diskusi membaca dalam makna yang interpretatif. Pertama kami mengupayakan agar setiap peserta bisa mendapatkan buku Das Kapital yang diterbitkan oleh Penguin publisher. Kedua kami juga mengupayakan adanya pendataan atas buku buku studi Das Kapital baik yang tersedia di perpustakaan STF Driyarkara maupun di perpustakaan lain. Sebagai contoh, buku Dictionary of Marxist Thought yang ditulis oleh Tom Bottomore sejauh yang kami ketahui tersedia di perpustakaan Freedom Institute. Kemudian kami juga mengupayakan adanya sebuah perpustakaan file digital dalam bentuk CD/DVD yang berisi karya karya lengkap Karl Marx beserta para penafsirnya. CD/DVD ini sebenarnya dapat dipesan secara gratis ataupun diunduh secara gratis pula via internet. Perpustakaan ini juga menyediakan adanya buku buku pendukung studi Das Kapital ataupun artikel-artikel jurnal internasional dalam bentuk file digital, dan kuliah 12 kali pertemuan membaca Das Kapital yang diampu oleh David Harvey dalam format file Audio dan Video. Pendeknya, kami berusaha mempersiapkan proses belajar ini dari segi ketersediaan materi, yang mana akan dapat dipenuhi selambat-lambatnya pada diskusi pertama buku Das Kapital. Karenanya kami berharap nantinya agar peserta diskusi dapat berpartisipasi aktif di dalam proses belajar, tidak sekedar melewatkan waktu demi membuang ludah-ludah keresahan tetapi juga mempersiapkan gagasan gagasan yang dapat diartikulasikan secara ilmiah ke hadapan publik; merencanakan sesuatu untuk ditulis tepatnya.

Problem proses belajar, sekali lagi bukan sesuatu yang mudah. Bagi kami yang belum selesai menuntaskan kuliah problem waktu dan tenaga, serta latar belakang pendidikan yang beragam di antara kami kerap membuat kami kurang begitu yakin apakah kami cukup memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan serial diskusi ini. Lebih-lebih kekurangyakinan ini diwarnai juga oleh sejumlah pertanyaan yang penuh prasangka dari kalangan mahasiswa STF Driyarkara, yang membuat kami penat berpikir perihal relasi sosial di dalam lingkup masyarakat akademik. “Apakah acara ini bermuatan politis?”, “Apakah acara ini didanai oleh organisasi di luar STF Driyarkara?”, “Apakah acara ini bertujuan memperburuk citra STF Driyarkara di hadapan publik?”, “Apakah acara ini bertujuan membentuk embrio Partai Komunis yang baru?”, dan sebagainya, ini semua yang kami tangkap sebagai sesuatu yang penuh kewajaran. Bahkan sehari sebelum acara ini dimulai masih ada yang berpesan agar acara ini sebaiknya dilangsungkan di Gedung Juang 45 dan bukan di STF Driyarkara. Sesungguhnya kami di sini perlu meminta maaf kepada berbagai pihak apabila keberadaan kami yang ingin mempelajari buku Das Kapital di STF Driyarkara sebagai sesuatu yang salah dan tidak dapat dibenarkan sama sekali. Sungguh, kami pun bersedia mengundurkan diri sebagai mahasiswa STF Driyarkara apabila di dalam proses belajar nantinya terjadi usaha-usaha pembentukan embrio partai Komunis. Bahkan di dalam pikiran pun kami mencoba memperhitungkan agar segala sesuatu yang berbau ‘politis’ dalam arti agitasi dan propaganda dapat diminimalisasi selama proses belajar. Selebihnya kami hanya dapat bersyukur kepada Allah Yang Maha Kuasa karena ternyata hegemoni orde baru jauh lebih berpengaruh dibanding segala macam pengajaran maupun fasilitas perpustakaan filsafat di STF Driyarkara. Oleh karena ternyata filsafat jauh lebih tidak berharga ketimbang doktrin Rejim Orde Baru: bahwa belajar Marxisme sama dengan menyebarluaskan ideologi Marxisme Leninisme. Seperti sebuah pemenjaraan intelektual yang dikemukakan oleh mereka yang berpikir seperti Rejim Orde Baru tetapi sesungguhnya tidak memiliki kepribadian. Seperti Inlander di masa kolonial Hindia Belanda yang begitu rupa memuja muja stabilitas, tetapi sesungguhnya itulah kedok dari sikap suka menjilat ke atas dan nginjek ke bawah! Akhirnya mungkin akan semakin benar yang dikemukakan oleh Karl Marx dalam Theses on Feuerbach, bahwa filsafat hanya mampu menggambarkan dunia, yang kemudian kami baca sebagai filsafat hanya mampu menjadi pembenar dari ideologi kelas berkuasa. “Padahal yang lebih penting adalah bagaimana mengubahnya”, demikian lanjut Marx, yang lalu kami baca sebagai kritik terhadap ideologi kelas berkuasa.

Problematik proses pendidikan lebih berkenaan dengan problem penciptaan sebuah proses belajar bersama yang tidak mendefinisikan kemampuan seseorang sebagai yang paling menguasai dibanding yang lain. Kebetulan saja beberapa di antara kami pernah membaca beberapa karya Karl Marx, tetapi itu tidak mengandaikan bahwa kami lah yang paling menguasai pemikiran Karl Marx. Banyak hal yang belum kami pahami dari pemikiran Karl Marx dan oleh karenanya kami mengundang teman teman sekalian untuk dapat berpartisipasi di dalam serial diskusi ini. Oleh karenanya juga kami berharap di dalam proses diskusi nantinya dapat dibentangkan sebuah panorama kegembiraan intelektual yang tiada habis-habisnya seperti yang digambarkan oleh Buyung Saleh Puradisastra dalam puisinya di tahun 19458

SEKEDAR PERMINTAAN

Tidak terlampau aku meminta

dari hidupku kini di sini

dan tak kutolak beban derita

yang merusakkan ruh dan jasmani

Aku sekadar meminta Cinta

penuh dan padu, mutlak dan murni

mengisi hati semua kita

keturunan Adam di bumi ini.

Aku ingin yang segala mahluk

penuh kasih antara sesama

bagia hidup setimbang tenang.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: